Senin, 29 September 2025

Dari Ratapan ke Panggung: Sejarah Ilau di Lurah Nan Tigo Salayo

SOLOK – Kesenian Ilau di Nagari Salayo, Kecamatan Kubung, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, yang berakar dari ratapan duka kini mulai terungkap cerita aslinya.



Sebelumnya, tradisi ini dikenal luas di masyarakat melalui kisah "Anak Bujang Mati di Rantau". Sebuah penulisan sejarah yang disusun oleh Gusnita dan dikembangkan oleh Alya Dasta Hanum Nabila, dengan penanggung jawab Mursal Datuak Juaro Nan Panjang, berupaya mengungkap asal-usul sejati kesenian ini.

Tragedi di Ujung Gurun: Awal Mula Ilau

Menurut hasil penelusuran sejarah, tradisi Ilau bermula dari sebuah kejadian tragis di Ujung Gurun, Lurah Nan Tigo Salayo. Peristiwa ini terjadi di Rumah Gadang Datuak Panduko Nan Panjang (suku Parak Panjang).

Kejadian tersebut berpusat pada kematian mendadak seorang gadis desa bernama Siti Nubari atau Gadih Nubari, yang baru tiga bulan menikah dengan Janin Ampang Basa.

Peristiwa naas itu terjadi sekitar tahun 1952, tak lama setelah Gadih Nubari kembali berlari pontang-panting dari sawah usai mengecek air, sesuai perintah ibunya, Bitah.

Siti Nubari dilaporkan dikejar oleh sesosok makhluk besar menyerupai babi berwarna putih. Setelah menceritakan kejadian tersebut, Siti Nubari jatuh dan langsung menghembuskan napas terakhir.

Kejadian tiba-tiba ini sontak membuat sang ibu, Bitah, meratapi anaknya. Ratapan duka ini, yang disaksikan oleh Bitah bersama sepupunya Andong Uniang dan murid mereka Sari'a (dikenal sebagai Andong Gilo), menjadi awal mula Ilau dikenal masyarakat.

Dari Tradisi Duka Menjadi Kesenian

Kesenian Ilau merupakan ratapan yang menceritakan kematian seseorang dan telah lama tumbuh di masyarakat Selayo.

Andong Gilo adalah tokoh sentral yang kemudian mengembangkan Ilau dari tradisi menjadi sebuah kesenian.

Awalnya, Andong Gilo mengembangkan Ilau dari rumah ke rumah berdasarkan undangan, hingga akhirnya menjadi ciri khas Nagari Salayo.

Salah satu karya Ilau populer dari Andong Gilo adalah yang bertema "Anak Bujang Mati di Rantau".

Setelah kuatnya ajaran Islam di Salayo, tradisi baIlau (melakukan Ilau) dilarang dilakukan di rumah duka, tetapi masih diperbolehkan dalam bentuk kesenian.

Penguatan Sejarah dari Saksi Mata Kisah asli ini dikuatkan oleh sejumlah narasumber, termasuk saksi hidup dan keturunan langsung dari tokoh-tokoh yang terlibat:

Syafri, keponakan Gadih Nubari, yang lahir bertepatan dengan terjadinya tradisi Ilau, menguatkan bahwa asal Ilau memang dari Ujung Gurun.

Warnadiati dan Gusnida, anak dari pernikahan kedua Janin Ampang Basa, menjadi narasumber terkuat karena ayah mereka sendiri yang mengisahkan tragedi Ilau tersebut.

Mariana, adik dari Andong Gilo, menyatakan bahwa Ilau berasal dari rumah Andong Uniang di Ujung Gurun.

Dasril Suin, seorang tokoh masyarakat, turut menyaksikan perkembangan Ilau dari rumah ke rumah hingga menjadi kesenian yang dipopulerkan oleh Andong Gilo.

Penulisan sejarah Ilau ini diharapkan dapat meluruskan dan mengungkapkan cerita asli dari kesenian tersebut, sehingga masyarakat luas mengetahui asal-muasal terbentuknya.

Untuk yang mau melihat karya Ilau melalui Dokumenter AI boleh di link Berikut :

RATAPAN DUKA SEORANG IBU BERUBAH MENJADI SEBUAH KESENIAN DI NAGARI SALAYO SUMATERA BARAT??! - YouTube

ASAL USUL TRADISI ILAU NAGARI SALAYO DI SUMATERA BARAT - YouTube

Rabu, 10 September 2025

Rang Solok Baralek Gadang 2025, Festival Budaya dan Panggung Hiburan Terbesar Kota Solok Siap Digelar


Kharisma Event Nusantara (KEN) Rang Solok Baralek Gadang (RSBG) tahun 2025, kembali digelar. Kegiatan ini diharapkan mampu menyedot perhatian banyak kalangan.

Kota Solok bersiap menyambut salah satu helatan budaya terbesar di Sumatera Barat (Sumbar), Rang Solok Baralek Gadang (RSBG) 2025, yang akan berlangsung pada 11 hingga 13 September 2025.

Festival yang telah masuk dalam jajaran KEN Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI ini akan menyuguhkan rangkaian acara penuh warna, memadukan kekayaan budaya, atraksi wisata, dan hiburan modern da­lam satu perayaan besar.

Sesuai harapan, kegiatan Rang Solok Baralek Gadang memang dirancang khusus meningkatkan dan mempromosikan pariwisata yang ada di Kota Solok.

Bagi Kota Solok, kegiatan Rang Solok Baralek Gadang ini merupakan kepercayaan pemerintah pusat yang menjadi kalender yang digelar setiap tahunnya.

RSBG tahun 2025 kali ini mengambil berbagai objek budaya yang terhubung dengan pengetahuan lokal ketahanan pangan. Jadi tidak salah kalau kegiatan ini sengaja digelar di areal persawahan yang masih dipertahankan di Kota Solok.

Gubernur Sumbar, Mahyeldi Ansarullah me­ngatakan Kota Solok identik dengan Sawah Solok. Satu-satunya KEN di Indonesia yang diadakan di tengah sawah hanya di Kota Solok. KEN ini memang menonjolkan identik dari daerah masing-masing.

Wali Kota menjelaskan, event ini menggerakkan perekonomian secara langsung. Untuk itu, harus didorong bersama-sama. Bukan tanpa alasan. Melalui ke­giatan ini pengunjung festival diajak memperbaharui pengalamannya yang bisa didapatkan di area persawahan sebagai icon Kota Solok yang sudah dikenal luas dengan Beras Solok.

Rangkaian suka cita Event Rang Solok Baralek Gadang merupakan wujud membumikan Kota Solok sebagai “Kota Beras Serambi Madinah” yang telah termaktub dalam Rencana Induk Kota Cerdas Kota Solok Tahun 2020-2025 dan telah ditetapkan dengan Peraturan Wali Kota Solok Nomor 13 Ta­hun 2020.

Dijelaskannya pemaknaan Kota Beras diambil karena masih ba­nyak lahan persawahan di Kota Solok yang didukung pengairan dan kualitas tanah yang bagus. Hal inilah yang menjadi inspirasi sekaligus permohonan kepada Allah SWT untuk panen yang melimpah yang kemudian diangkat dalam Event Rang Solok Baralek Gadang.

Tidak kalah penting, event ini juga menjadi wahana dan panggung bagi pelaku pariwsata ekonomi kreatif (parekraf) berbasis pertanian untuk menampilkan karya-karya­nya, yang pada akhirnya memberikan dampak dari sisi ekonomi.

Melalui Event Rang Solok Baralek Gadang diharapkan Kota Solok lebih dikenal lagi di tingkat nasional dan internasional serta menjadi salah satu kebanggaan warga Kota Solok. Karena ini event wisata yang terintegrasi antara wisata, budaya dan ketahanan pangan.

Rang Solok Baralek Gadang merupakan ekspresi kegembiraan akan panen melimpah, serta menjaga adat budaya dan tradisi dari nenek moyang serta menjaga silaturrahmi.

Event tahunan yang menjadi ikon Kota Solok ini digelar di dua lokasi utama, yaitu Hamparan Sawah Solok dan Taman Syech Kukut. Sejumlah agenda telah disiapkan untuk menghadirkan pe­ngalaman terbaik bagi wisatawan dari berbagai daerah.

Perhelatan akan dibuka dengan pawai budaya spektakuler menuju Hamparan Sawah Solok, menampilkan atraksi seni tradisi, pakaian adat dan parade komunitas yang merefleksikan kekayaan budaya Minangkabau.

Di kawasan hamparan sawah, pengunjung akan disuguhkan dengan instalasi jerami padi dalam beragam seni rupa, tari massal, hingga Festival Silek Tuo yang menggambarkan keindahan seni bela diri tradisional.

Suasana semakin meriah dengan lomba baju adat Solok, tradisi “Bakaua Turun Ka Sawah”, serta permainan tradisional anak nagari yang menghadirkan kembali nuansa kearifan lokal di tengah modernitas.

Tidak hanya budaya, RSBG juga memberikan ruang bagi geliat ekonomi masyarakat. Di area bazar UMKM, para pengunjung bisa menikmati kuliner khas Solok, berbelanja kerajinan tangan, hingga membawa pulang hasil pertanian lokal sebagai buah tangan.

Kemeriahan RSBG  tahun ini semakin terasa dengan kehadiran panggung hiburan utama di Taman Syech Kukut. Sejumlah penampil nasional akan mengisi acara, di antaranya Darak Badarak dengan musik tradisi modern Minang, Kintani dan Big Heru yang popu­ler dengan lagu-lagu Minang kekinian, serta Haddad Alwi yang siap menghadirkan lantunan religi penuh makna.

Kehadiran panggung hiburan ini menambah daya tarik bagi semua kalangan, sekaligus memperkuat positioning Kota Solok sebagai destinasi wisata budaya dan religi.

Wali Kota Solok, Ramadhani Kirana Putra, menegaskan, RSBG bukan hanya perayaan budaya, tetapi juga momentum untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, terutama bagi pelaku UMKM.

“Kita berharap dari pelaksanaan event Rang Solok Baralek Gadang ini muaranya untuk kesejahteraan masyarakat. Selain memperkuat identitas budaya daerah, kegiatan ini diharapkan memberi dampak positif bagi ekonomi masyarakat Kota Solok,” ujarnya saat memantau persiapan acara, Senin (8/9).

Sejak pertama kali di­gelar, RSBG selalu menyedot puluhan ribu pengunjung dari Sumbar maupun luar daerah. Kehadirannya terbukti mampu meng­gerakkan roda eko­nomi masyarakat, mulai dari kuliner, transportasi, hingga industri kreatif.

Wali Kota juga menekankan, festival ini memiliki peran penting dalam memperkenalkan Kota Solok ke kancah le­bih luas.

“RSBG 2025 diharapkan semakin menggaungkan nama Kota Solok dalam peta pariwisata nasional. Tiga hari penuh atraksi budaya, hiburan, dan eko­nomi kreatif ini bukan ha­nya pesta masyarakat, tapi juga simbol kebersamaan untuk menjadikan Solok semakin dikenal luas,"Ujar Wali Kota Solok Ramdhani Kirana Putra 

Selasa, 09 September 2025

Andre-rosiade-jalan-rusak-di-taratak-galundi-alahan-panjang-segera-diperbaiki.

 

Foto: Wakil Ketua Komisi VI DPR Fraksi Gerindra Andre Rosiade bersama Bupati Solok Jon Firman Pandu meninjau jalan rusak parah di Taratak Galundi menuju Alahan Panjang, Kabupaten Solok.

Wakil Ketua Komisi VI DPR Fraksi Gerindra Andre Rosiade bersama Bupati Solok Jon Firman Pandu meninjau jalan rusak parah di Taratak Galundi menuju Alahan Panjang, Kabupaten Solok. Jalan sepanjang 2,2 KM itu sudah rusak sejak tahun 2019.

"Alhamdulillah, jalan Taratak Galundi-Alahan Panjang masuk dalam program Inpres Jalan Daerah (IJD) 2025 dengan dana Rp 8,5 miliar. Insyaallah akan dikerjakan dalam waktu dekat. Kami melihat langsung bagaimana rusak parahnya jalan ini," kata Andre kepada wartawan, Senin (7/9/2025)

Andre juga datang bersama Wakil Ketua DPRD Sumbar Evi Yandri Rajo Budiman, Anggota DPR Sumbar Rony Mulyadi, Ketua Fraksi Gerindra DPRD Kabupaten Solok Hafni Haviz dan lainnya.

Andre Rosiade menyebut, pemerintah pusat telah menyetujui perbaikan jalan rusak Taratak Galundi-Alahan Panjang sebesar Rp 8,5 miliar dengan panjang 2,2 KM. Dalam waktu dekat akan dibangun kembali.
"Terima kasih kepada Presiden Prabowo, Menteri PU dan jajaran yang telah memberikan perhatian khusus kepada Sumbar untuk pembangunan dan perbaikan jalan," kata Andre Rosiade yang juga Ketua Umum Ikatan Keluarga Minang (IKM).

Selain Taratak Galundi-Alahan Panjang, kata Andre, ruas jalan lainnya juga sudah mendapatkan kepastian anggaran. Seperti peningkatan jalan Simpang Silaut Lio Kabupaten Pesisir Selatan senilai Rp 50,3 miliar.

Preservasi jalan Sungai Sungkai-Batu Sandi Dharmasraya Rp 13,6 miliar dengan pembangunan multiyears 2025-2026, pembangunan jembatan Lunuk Pauh Kabupaten Tanah Datar Rp 12 miliar dengan multi years 2025-2026 dan jalan rusak Payakumbuh-Sitangkai Rp 75 miliar.

Di kesempatan yang sama. Bupati Solok Jon Firman Pandu mengatakan, rencana perbaikan ini adalah kabar bahagia untuk masyarakat Kabupaten Solok. Masyarakat sudah sangat lama menunggu.
"Kami bersama Pak Andre Rosiade melihat secara langsung kondisi jalan Taratak Galundi yang akan di perbaiki melalui Inpres Jalan Daerah. Semoga segera dikerjakan," kata Jon Firman.

Lalu, Ketua Fraksi Gerindra DPRD Kabupaten Solok Hafni Haviz mengucapkan terima kasih atas perjuangan Andre Rosiade dalam mempercepat pembangunan jalan rusak itu. Karena sudah sangat diimpikan oleh warga.

"Terima kasih kepada Pak Andre Rosiade yang telah membantu memastikan anggaran perbaikan jalan ini," katanya.

Seperti diketahui Andre Rosiade berkomitmen sebagai wakil rakyat akan terus berjuang di tingkat nasional agar dana-dana pusat itu dapat dialokasikan untuk membangun Sumbar.

"Pak Prabowo jadi presiden, triliunan dana pusat kami bawa ke Sumbar. Sekarang sudah dilakukan. Marilah kita bersatu dukung pemerintah. Beda partai itu biasa."Dimana bumi dipijak di situ langik dijunjuang, basamo mangko manjadi" ujar Andre


Bupati Solok Bersama Anggota DPR RI Andre Rosiade Resmikan BTS di Nagari Sumiso

 Bupati Solok Jon Firman Pandu bersama Anggota DPR RI Komisi VI, Andre Rosiade, dan Manager Network Operation Productivity Telkomsel Area Padang Andy Suapril meresmikan pengoperasian Base Transceiver Station (BTS) di Nagari Sumiso, Kecamatan Tigo Lurah, Kabupaten Solok, Minggu (07/09/2025)

.Peresmian ini menjadi kabar gembira bagi masyarakat Nagari Sumiso yang selama ini kesulitan akses jaringan komunikasi. Dengan beroperasinya BTS, masyarakat kini dapat menikmati layanan telekomunikasi yang lebih baik, mendukung pendidikan, perekonomian, serta memperlancar komunikasi sehari-hari.

Dalam sambutannya, Bupati Solok Jon Firman Pandu menyampaikan apresiasi kepada semua pihak yang telah berkontribusi menghadirkan layanan BTS di daerah terpencil ini.

“Ini adalah bentuk nyata perhatian pemerintah pusat dan daerah untuk memastikan masyarakat di pelosok juga bisa menikmati akses komunikasi yang layak. Kami berharap fasilitas ini dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk mendukung kemajuan nagari,” ujar Jon Firman Pandu.

Sementara itu, Anggota DPR RI, Andre Rosiade menegaskan komitmennya untuk terus memperjuangkan peningkatan infrastruktur telekomunikasi di Sumatera Barat, termasuk di Kabupaten Solok.

“Kita ingin tidak ada lagi daerah yang terisolasi dari jaringan komunikasi. Dengan hadirnya BTS ini, masyarakat bisa lebih mudah beraktivitas, terutama dalam bidang pendidikan, ekonomi digital, dan pelayanan publik,” kata Andre.

Masyarakat Nagari Sumiso menyambut antusias peresmian tersebut. Mereka berharap pembangunan infrastruktur serupa terus ditingkatkan agar seluruh wilayah Kabupaten Solok dapat merasakan manfaat teknologi komunikasi secara merata.

Tampak Hadir, Anggota DPRD Provinsi Sumatera Barat dan Kabupaten Solok Iskan Nofis, Hafni Hafiz, Tasman Putra, dan Nelson. Ketua TP PKK Kabupaten Solok Ny. Nia Jon Firman Pandu, Kepala Dinas Kominfo Kabupaten Solok Teta Midra, Camat Tigo Lurah Teddy Aurora, dan Wali Nagari se Kecamatan Tigo Lurah