SOLOK – Kesenian Ilau
di Nagari Salayo, Kecamatan Kubung, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, yang
berakar dari ratapan duka kini mulai terungkap cerita aslinya.
Sebelumnya, tradisi ini dikenal luas di masyarakat melalui
kisah "Anak Bujang Mati di
Rantau". Sebuah penulisan sejarah yang disusun oleh Gusnita dan
dikembangkan oleh Alya Dasta Hanum Nabila, dengan penanggung jawab Mursal
Datuak Juaro Nan Panjang, berupaya mengungkap asal-usul sejati kesenian ini.
Tragedi di Ujung
Gurun: Awal Mula Ilau
Menurut hasil penelusuran sejarah, tradisi Ilau bermula dari
sebuah kejadian tragis di Ujung Gurun, Lurah Nan Tigo Salayo. Peristiwa ini
terjadi di Rumah Gadang Datuak Panduko Nan Panjang (suku Parak Panjang).
Kejadian tersebut berpusat pada kematian mendadak seorang
gadis desa bernama Siti Nubari atau Gadih Nubari, yang baru tiga bulan menikah
dengan Janin Ampang Basa.
Peristiwa naas itu terjadi sekitar tahun 1952, tak lama
setelah Gadih Nubari kembali berlari pontang-panting dari sawah usai mengecek
air, sesuai perintah ibunya, Bitah.
Siti Nubari dilaporkan dikejar oleh sesosok makhluk besar
menyerupai babi berwarna putih. Setelah menceritakan kejadian tersebut, Siti
Nubari jatuh dan langsung menghembuskan napas terakhir.
Kejadian tiba-tiba ini sontak membuat sang ibu, Bitah,
meratapi anaknya. Ratapan duka ini, yang disaksikan oleh Bitah bersama
sepupunya Andong Uniang dan murid mereka Sari'a (dikenal sebagai Andong Gilo),
menjadi awal mula Ilau dikenal masyarakat.
Dari Tradisi Duka
Menjadi Kesenian
Kesenian Ilau
merupakan ratapan yang menceritakan kematian seseorang dan telah lama tumbuh di
masyarakat Selayo.
Andong Gilo adalah tokoh sentral yang kemudian mengembangkan
Ilau dari tradisi menjadi sebuah kesenian.
Awalnya, Andong Gilo mengembangkan Ilau dari rumah ke rumah
berdasarkan undangan, hingga akhirnya menjadi ciri khas Nagari Salayo.
Salah satu karya Ilau populer dari Andong Gilo adalah yang
bertema "Anak Bujang Mati di
Rantau".
Setelah kuatnya ajaran Islam di Salayo, tradisi baIlau
(melakukan Ilau) dilarang dilakukan
di rumah duka, tetapi masih diperbolehkan dalam bentuk kesenian.
Penguatan Sejarah dari Saksi Mata Kisah asli ini dikuatkan
oleh sejumlah narasumber, termasuk saksi hidup dan keturunan langsung dari
tokoh-tokoh yang terlibat:
Syafri, keponakan Gadih Nubari, yang lahir bertepatan dengan
terjadinya tradisi Ilau, menguatkan bahwa asal Ilau memang dari Ujung Gurun.
Warnadiati dan Gusnida, anak dari pernikahan kedua Janin
Ampang Basa, menjadi narasumber terkuat karena ayah mereka sendiri yang
mengisahkan tragedi Ilau tersebut.
Mariana, adik dari Andong Gilo, menyatakan bahwa Ilau
berasal dari rumah Andong Uniang di Ujung Gurun.
Dasril Suin, seorang tokoh masyarakat, turut menyaksikan
perkembangan Ilau dari rumah ke rumah hingga menjadi kesenian yang dipopulerkan
oleh Andong Gilo.
Penulisan sejarah Ilau ini diharapkan dapat meluruskan dan mengungkapkan cerita asli dari kesenian tersebut, sehingga masyarakat luas mengetahui asal-muasal terbentuknya.
Untuk yang mau melihat karya Ilau melalui Dokumenter AI boleh di link Berikut :
ASAL USUL TRADISI ILAU NAGARI SALAYO DI SUMATERA BARAT - YouTube



